Sunday, January 11, 2015

USIA DAN PEMEROLEHAN BAHASA KEDUA

- 0 comments
                                                                                                                                                                   Bab.3 HALAMAN 58-88

Rangkuman tentang ‘’USIA DAN PEMEROLEHAN ‘’

Pemerolehan bahasa pertama di mulai pada masa yang sangat belia, pemerolehan bahasa kedua juga bisa di peroleh pada masa kanak-kanak dan juga pada masa dewasa.
1. Membuang mitos.
Langkah pertama dlm meneliti usia dan pemerolehan adalah dengan membuang mitos mengenai hubungan antara pemerolehan bahasa pertama dan kedua. H. H Stern (1970) meringkas sejumlah penjelasan yang merekomendasikan metode dan pengajaran bahasa kedua berdasarkan pada pemerolehan bahasa pertama.
1. Dalam pemelajaran bahasa, kita harus terus menerus berlatih.
2. Pembelajaran bahasa adalah masalah peniruan.
3. Pertama,kita latih berbagai bunyi, lalu kata-kata, kemudian kalimat.
4. Saksikan perkembangan wicara seorang anak.
5. Seorang anak kecil mendengar dan berbicara dan tak seorang pun yang membuatnya membaca dan menulis.
6. Anda tak perlu menerjemahkan pada waktu anda kecil.
7. Seorang anak kecil menggunakan bahasa begitu saja.
Pertanyaan di atas mewakili pandangan orang-orang yang beranggapan bahwa ‘cara belajar bahasa pertama adalah impian bagi setiap guru bahasa asing. Seorang murid secara misterius menguasai kosa kata yang pelafalanya sempurna dengan hanya satu dua kesalahan, sementara morfologi dan sintaksis datang kepadanya seperti sebuah mimpi dan bukan seperti rasa pening yang terus menerus (Stren,1970).
Ada kekeliruan dalam ke tujuh pernyataan tersebut. Terkadang kekeliruan terletak pada asumsi mengenai pembelajaran bahasa pertama.kekeliruan ini mewakili kesalahan pahaman yang perlu di bongkar mitos bagi guru bahasa ke dua. Anda mestinya bisa mengindari jebakan dan juga membuat analogi-analogi cerdas kapan saja, sehingga memperkaya pemahaman anda mengenai peroses pembelajaran bahasa kedua.
JENIS PERBANDINGAN DAN KONTRAS
Pemerolehan bahasa pertama pada anak-anak dan pemerolehan bahasa kedua pada orang dewasa merupakan kategori yang menarik untuk di bandingkan. Untuk meninjau perbandingan ini, di bandingkan dalam sebuah matriks perbandingan yang memungkinkan. Bagan 3.1 mewakili 4 kategori yang mungkin untuk di pertimbangkan, yang di rumuskan dengan usia dan jenis pemerolehan. Area berarsir antara anak-anak dan dewasa dianggap bahawa dewasa bila sudah mencapai akil balik. Dan sel D1 Jelas merupakan gambaran situasi abnormal.
A1 D1
A2 D2
Anak-Anak Dewasa
B1
B2
Ket: B1= Bahasa pertama
B2= Bahasa kedua
A= Anak-anak
D= Dewasa
Mengingat kita berurusan dengan kasus abnormal atau patologis pemerolehan bahasa, kita bisa mengabaikan kategori D1. Yang tersisa adalah tiga perbandingan yang mungkin:
1. Pemerolehan bahasa pertama dan kedua pada anak-anak(A1-A2), Faktor usia konstan.
2. Pemerolehan bahasa kedua pada anak-anak dan orang dewasa (A2-D2), Faktor bahasa kedua konstan.
3. Pemerolehan bahasa pertama pada anak-anak dan pemerolehan bahasa kedua pada orang dewasa (A1-D2)
HIPOTESIS PERIODE KRITIS
Hipotesis periode kritis (The Critical Period Hypothesis) menyatakan adanya semacam jadwal biologis. Awalnya gagasan tentang periode kritis hanya terkait dengan pemerolehan bahasa pertama. Studi patologis terhadap anak-anak yang gagal menguasai bahasa pertama, atau aspek-aspeknya, mendorong muncunya gagasan tentang kecenderungan yang di pengaruhi oleh faktor biologis, yang di patok waktunya untuk berbunga, yang akan layu sekitarnya pada tahapan yang krusial itu tidak muncul stimulus lingkungan tepat. Dan para peneliti seperti Lenneberg (1967) dan Bickerton(1981) membuat pernyataan tegas yang mendukung periode kritis, yang meyakini bahwa kemampuan-kemampuan tertentu tidak mungkin berkembang sebelum dan sesudah rentang waktu tersebut.
Dan pada tahun terakhir banyak peneliti yang muncul tentang kemungkinan menerapkan gagasan CPH untuk konteks bahasa kedua dan argumen klasiknya adalh bahwa titik keritis untuk pemerolehan bahasa ke dua terjadi sekitar usia akil balik. Lepas dari waktu itu orang sepertinya relatif tak mampu menguasai bahasa kedua. Argumen ini telah menggiring orang untuk beranggapan secara tidak tepat, bahwa setelah usia 12 atau 13 orang sudah ‘’kehabisan bensin’’ untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran bahasa ke dua. Anggapan semacam ini mesti di pertanyakan dari sudut mana ‘’keberhasilan’’ itu dilihat, dan utamanya peran logat sebagai komponen keberhasilan. Untuk memeriksa permasalahan pertama kita akan melihat pertimbangan neurologis dan fonologis, dan kemudian pertimbangan kongnitif, afektif, dan linguistik.
PERTIMBANGAN NEUROLOGIS
Lateralisasi Hemisferik
Beberapa akademis telah memilih lateralisasi otak sebagai kunci jawaban atas pertanyaan semacam itu. Ada bukti dalam neurologis bahwa ketika otak orang semakin dewasa, fungsi-fungsi tertentu di tempatkan atau ‘diliteralkan’, ke belahan kiri otak. Dan fungsi tertentu lainya kebelahan kanan. Fungsi intelektual, logika, dan analitis sebagian besar adalah otak kiri. Sementara belahan kanan mengontrol fungsi yang terkait dengan kebutuhan emosional dan sosial. Dan fungsi-fungsi bahasa tanfaknya di kendalikan dengan otak kiri. Dan para peneliti bahasa kedua berpusat pada masalah kapan lateralisasi mempengaruhi pemerolehan bahasa atau tidak. Eric Lenneberg(1967) dan yang lain menunjukkan bahawa laterasasi adalah sebuah peroses pelan yang dimulai pada sekitar usia dua tahun dan menjadi lengkap sekitar akil baliq. Sudah ada temuan bahwa anak-anak yang menderita cedera di belahan otak kiri maupun menemukan kembali fungsi linguistik di otak kanan, dan ‘’belajar ulang’’ bahasa pertama mereka dengan kekurangan relatif kecil.
Tomas scovel(1969) menjelaskan hubungan antara lateralisasi dan pemerolehan bahasa kedua. Ia menunjukkan bahwa plastisitas otak sebelum akil balik memungkinkan anak-anak menguasai tak hanya bahasa pertama tetapi juga sebuah bahasa kedua, atau setidaknya pemerolehanya.
JADWAL BIOLOGIS
Walsh dan Diller (19981) mengutarakan bahwa aspek-aspek yang berbeda dari bahasa kedua di pelajari secara optimal pada usia yang berbeda-beda.
Peroses-proses tingkat rendah seperti pelapalan tergantung pada sirkuit-sirkuit makroneural yang cepat matang dan kurang adaftif, sehingga logat-logat asing sulit di kuasai setelah masa kanak-kanak. Fungsi bahasa tingkat tinggi, seperti hubungan semantik, lebih tergantung pada sirkuit-sirkuit netral yang lambat matang, sehingga ini mungkin bisa menjelaskan mengapa mahasiswa mampu belajar tata bahasa dan kosakata dalam jumlah jauh lebih banyak ketimbang murid sekolah dasar dalam rentang waktu tertentu. Dengan demikian, kita sekarang memiliki dukungan bagiperiode kritis berdasarkan neurologis, terutama dalam bidang pemerolehan logat otentik (seperti penutur asli). Tetapi tidak begitu kuat untuk pemerolehan kefasihan komunikatif dan proses-proses ‘’tingkat tinggi’’lain. Kita akan kembali ke permasalahan ini pada bagian selanjutnya.
Partisipasi Hemisferik kanan.
Obler(1981) mwncatat bahwa dalam pembelajaran bahasa kedua, ada partisipasi penting belahan otak kanan dan bahwa ‘’pertisipasi ini terutama aktif selama tahap-tahap awal pembelajaran bahasa kedua’’ tetapi, ‘’parttisipasi’’ ini sampai derajat tertentu terdiri atas apa yang nanti kita definisikan (pada bab 5) sebagai ‘’strategi-strategi’’ pemerolehan. Obler merujuk strategi penebakan makna, dan penggunaan ujaran klise, sebagai contoh-contoh aktivitas otak kanan. Para peneliti lain (Genesee,1982;Seliger,1982) juga menemukan keterlibatanotak kanan dalam bentuk pemrosesan bahasa yang kompleks dan tidak demikian pada pemerolehan bahasa awal.
Bukti Anropologis
Beberapa orang dewasa di ketahui berhasil menguasai logat otentik dalam bahasa kedua setelah usia akil balik. Tetapi orang-orang semacam ini sangat sedikit jumlahnya
[Continue reading...]
 
Copyright © . education - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger